Showing posts with label BerGERAK. Show all posts
Showing posts with label BerGERAK. Show all posts

Wednesday, July 18, 2012

Peran Media Dalam Membangun Karakter Anti Korupsi (1)


Media dan Pemberantasan Korupsi
Setiap hari apa yang kita lihat saat menonton berita di televisi? Apa yang kita baca saat melihat headline surat kabar? Apa topik yang tidak pernah lepas dari pembicaraan masyarakat? Ya, jawabannya hanya 1 kata, korupsi. Di negara Indonesia dengan jumlah penduduk 1/30 jumlah penduduk dunia, korupsi selalu menjadi isu yang hangat dan seksi yang tidak pernah habis diwartakan. Korupsi yang menimpa bangsa saat ini sudah seperti cendawan di musim hujan, selalu tumbuh pesat dengan grafik yang selalu naik. Tidak heran jika akhirnya Indonesia meraih prestasi (memprihatinkan) sebagai salah satu dari 10 negara ter-korup di dunia. 

Pemberitaan media setiap hari, setiap saat, tidak henti-hentinya menyiarkan kasus korupsi baik yang paling anyar maupun lawas. Kasus Bibit-Chandra, Skandal Century, Mafia Pajak, Korupsi Elit Partai Demokrat; Nazaruddin, sampai yang paling anyar korupsi pengadaan Al-Quran adalah segelintir dari banyak kasus yang terjadi namun selalu tidak pernah berhasil dituntaskan, hanya menyisakan tanda tanya besar siapa the man behind the scene-nya. Sampai sekarang misteri itu tidak pernah terkuak karena kekuatan sistemik menjadi pelindung bagi sejumlah koruptor di negeri ini. Disinilah dibutuhkan peran besar media untuk konsisten dalam memberitakan kebenaran dan mencari celah informasi akurat sebanyak-banyaknya untuk disampaikan kepada publik.

Media memiliki kontribusi yang esensial dalam mendukung proses pembangunan demokrasi di negeri ini. Peran media tidak hanya memberikan informasi mengenai penindakan terhadap pelaku korupsi, tetapi juga pencegahan korupsi melalui berita-berita informatif, cerdas, kritis, dan bertanggung jawab. Hal ini di satu sisi membangun kecerdasan, kepekaan politik serta sosial kontrol masyarakat, namun disisi lain dapat menimbulkan masalah terutama terhadap pembentukan watak atau karakter masyarakat khususnya bagi para generasi muda. Pemberitaan media yang terlalu banyak menyoroti profil tokoh-tokoh bermasalah (koruptor) dibandingkan figur-figur pemimpin teladan atau tokoh-tokoh berprestasi di berbagai bidang, menjadikan mereka kekurangan referensi, rujukan, mengenai model manusia ideal Indonesia (negarawan). Pemberitaan mengenai prestasi maupun dan inovasi masyarakat pun sangat minim, sehingga motivasi untuk melakukan sesuatu yang produktif bagi diri pribadi, masyarakat, dan negara juga sangat kurang. Media bisa jadi lupa bahwa selain fungsi informasi, dia juga berfungsi membangun karakter (character building) dengan menanamkan sikap mental problem solver bukan problem maker kepada masyarakat (generasi muda), sehingga mereka tergerak untuk melakukan hal-hal konstruktif yang bisa mensejahterakan bangsa.

Salah satu negara yang dapat dijadikan rujukan mengenai peran besar media terhadap perubahan perilaku masyarakat adalah Jepang. Ketika tsunami tahun 2011 malanda negeri Sakura, masyarakat Jepang sangat terguncang. Semenjak saat itu, seluruh media Jepang dilarang untuk menyiarkan laporan mengenai tsunami termasuk menyebut kata tsunami itu sendiri. Kata tsunami menjadi kata yang tabu di seluruh pelosok negeri, untuk diberitakan maupun untuk diperbincangkan. Bagi mereka tsunami dan akibatnya adalah kepedihan, dan kepedihan harus dihilangkan dengan cara bangkit, bukan mengingat dan meratapi. Tidak heran, dengan cepat kehidupan berangsur normal, seperti tidak terjadi suatu petaka. Jepang kembali tersenyum dan bangkit dari keterpurukan dan menunjukkan pada dunia bahwa media mempunyai peran yang sangat besar sebagai kekuatan pendidik dan pembangunan bangsa. 

Seperti Jepang, media di Indonesia juga diharapkan bisa menjadi barometer bangkitnya semangat pemberantasan korupsi, wadah pendidik masyarakat yang berkualitas, serta ruang besar bagi karya dan prestasi agar terciptanya karakter-karakter tangguh yang berintegritas yang dapat membawa negeri ini menuju kearah perubahan yang lebih baik.



Dipersembahkan untuk kegiatan:
Kesenian Anak Bangsa Kita versus Korupsi 

Monday, September 13, 2010

Kobarkan Semangatmu!

SEMANGAT,
SEMANGAT,
SEMANGAT,
APA PUN YANG TERJADI...
TETAP SEMANGAT!!!

Monday, July 19, 2010

Ternyata, Rakyat Masih Menginginkan Seorang RAJA

Belajar dari pengalaman dan interaksi ku selama ini dengan kalangan menengah ke bawah yang memang notabene rakyat kebanyakan di Makassar dan pengamatan selama kurang lebih dua dasawarsa ditakdirkan menjadi WNI dan tinggal di Indonesia...akhirnya aku sampai pada suatu kesimpulan di atas.

Rakyat kita masih menginginkan sosok seorang bak RAJA yang maju sebagai pemimpin di negeri ini. Punya kuasa, harta, dan titah. Miriplah dengan sejarah-sejarah dunia yang menggambarkan betapa otoriternya seorang Raja...kurang lebih gambarannya seperti itu dan memang seperti itu ( sistem feodal) walaupun sekarang dikemas lebih modern-futuristik. Uang, sembako, minyak tanah, rumah, mobil...sebut saja. Ketika hajat kaum marjinal dipenuhinya, sikap pragmatis masyarakat terhadap penguasa muncul. Masyarakat dibuat SENANG dengan aksi Robin Hood kesiangan ( hitung-hitung cari dukungan rakyat).

Tampaknya memang masyarakat kita masih “materialistis”. Wajar saja, karena masalah substansial di Indonesia tdk pernah kunjung terselesaikan yaitu, kesejahteraan masyarakat di berbagai bidang. Masyarakat belum cerdas memilih mana pemimpin yang betul-betul tepat yang sebenarnya bisa mengatasi krisis bangsa berkepanjangan. Karena materi adalah fana, kita butuh pemimpin brilian yg mampu menembus masalah sustansial. Bukan juga superhero. Namun PEMIMPIN YANG MELAYANI. Pemimpin yang bukan sekedar penguasa namun selalu melihat, mendengar, dan merasakan keinginan dan keluhan rakyatnya dan selalu berusaha untuk memberikan penyelesaian terhadap masalah bangsa. Teringat kisah kepemimpinan Umar Ra. yang selalu melakukan ronda ketika malam tiba untuk mengetahui kondisi rakyatnya. Beliau tidak tenang makan ketika tahu bahwa masih ada rakyatnya yang kelaparan. Bahkan karakter kepemimpinannya menurun kepada generasi selanjutnya Khalifah Umar bin Abdul Azis yang merupakan cicit beliau sendiri.

Mungkin memang tidak serta merta paradigma masyarakat ini akan berubah, namun  saya yakin ketika amanah kepemimpinan negeri ini jatuh pada bahwa the right man bukan tidak mungkin, cikal bakal kembalinya peradaban Islam justru akan lahir dari Indonesia.

Wallahu 'alam bishshowwab


Original Post : 30 September 2010

Sunday, July 18, 2010

Koalisi Impian...Bukan Sekedar MIMPI!

alhamdulillah,Allah swt masih memberikan kita nafas yang panjang untuk memberikan sentuhan kemanfaatan bagi negeri ini...

Indonesia akan memasuki babak baru dalam perjalanannya sebagai sebuah negeri...sebentar lagi,tinggal menghitung waktu.
Media makin membuat pemberitaan yang hangat,koalisi partai menjadi marak diperbincangkan..

berbicara koalisi adalah hal yg lumrah dalam sebuah dinamika perpolitikan...kerjasama parpol dgn kepentingan msng2.begitulah koalisi dlm konteks politik.

kepentingan apa yang melatarinya tentu saja banyak, mulai dari ideologi, kepentingan praktis smpe pada kekuasaan belaka.

namun,menarik dari paradigma masyarakat yang berkembang bahwa adanya kolisi adalah untuk semakin melegitimasi kekuatan suatu parpol dan hitung2an suara.simbiosis mutualisme bagi parpol namun tidak ada dampak yang dirasakan oleh masyarakat...begitulah intinya
wajar saja karena masyarakat terbiasa melihat realitas yang ada. byk yang apatis..

apakah koalisi se-sempit itu???

mengembalikan pemahaman kita bersama...bahwa smw proses demokrasi yang qt hadapi sekarang adalah rangkaian dari membangun bangsa...bukan karena kepentingan pragmatis dan ambisi untuk meraih kekuasaan.

koalisi impian...seperti apakah dia???

bahwa kolisi lahir dari impian2 anak negeri akan masa depan bangsanya...
cita-cita penyelamatan bangsa dari lubang kehancuran, kemelaratan dan kesengsaraan haruslah menjadi latar bagi parpol.
masyarakat gerah,muak dan acuh dgn segala perpolitikan yg terjadi...
partai dan para wakil rakyat menjadi kehilangan kepercayaan dimata mereka seiring dgn banyaknya kasus yg terjadi.
inilah yang harus menjadi boomerang bagi parpol untuk merubah bahkan menghapus kegelisahan masyarakat.
oleh karena itu, koalisi harus mempertimbangkan keseluruhan aspek yg terjadi di masyarakat.
tak masalah, yang se-ideologi ataupun tidak...skali lagi tidak perlu dipermasalahkan asalkan kita mampu memecahkan masalah substansial yg terjadi di Indonesia,bersepakat untuk tujuan yang sama..kepentingan strategis membangun Indonesia...menyelematkan negeri ini

koalisi impian ini hanya akan lahir dari kematangan jiwa dan politik para pengembannya...koalisi yang lahir karena impian untuk indonesia yang lebih baik.

wallahu a'lam bishshowab

 ---> Hasil obok2 notequ di FB...
  Huff!!!Lama nian indak jumpo <----

Analisis Wacana Kritis (Critical Discourse Analysis)

Mukaddimah
Analisis wacana pada hakikatnya adalah sebuah metode berpikir yang merupakan aktifitas yang melekat dalam diri manusia. Objek analisis sangat luas, seperti hamparan keluasan nikmat Allah swt. di bumi ini. Untuk itu, otak yang tidak dipandu nilai, ibarat pengembara di padang luas yang berjalan tanpa arah dan mungkin saja bisa kehilangan arah karenanya.
 Proses analisis wacana haruslah berpijak pada frame berpikir yang proporsional. Mengingat sekarang banyak isu-isu yang berkembang dengan cepat kemudian diolah menjadi sebuah wacana yang cenderung mendiskreditkan kebenaran yang sesungguhnya. Perang wacana sudah menjadi bagian dalam kehidupan kita sehari-hari. Namun, kita sebagai mahasiswa, kaum intelektual mungkin belum sepenuhnya tersadarkan akan hal ini. 








Sebagai seorang Muslim, jelas bahwa dalam menganalisis suatu masalah kita harus berpijak pada kebenaran. Karena pada intinya, sebuah analisis wacana harus berpegang teguh pada kebaikan yang diperintahkan Islam (kebenaran) dan menghindari keburukan yang dilarang oleh Islam (Abdul Halim Mahmud, 1992) yang justru sering timbul karena hawa nafsu.
“Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun.” (Shad: 26)
Suguhan di bawah ini adalah penjelasan normatif tentang Analisis Wacana Kritis dari berbagai literatur. Semoga bisa menjadi rujukan awal bagi kita semua. Sang Muslim Negarawan.

Definisi Analisis Wacana
Pengertian wacana menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa adalah :
1.    Ucapan, perkataan, tutur
2.    Keseluruhan tutur yang merupakan satu kesatuan
3.    Satuan bahasa terlengkap, realisasinya tampak pada bentuk karangan utuh seperti novel, buku atau artikel, atau pada pidato, khotbah, khotbah dan sebagainya.

JS Badudu, seorang ahli bahasa menyebutkan bahwa wacana  adalah satuan bahasa terlengkap dan tertinggi di atas kalimat dengan koherensi dan kohesi yang tinggi dan berkesinambungan, yang mampu mempunyai awal dan akhir yang nyata, disampaikan secara lisan atau tertulis.
Dari ungkapan di atas, terlihat bahwa wacana sebagai hasil dari pengungkapan ide/ gagasan penyapa, dan pengembangan wacana memunculkan sebuah disiplin ilmu yang mempelajari wacana disebut analisis wacana.
Berikut ini adalah pengertian analisis wacana :
•         Komunikasi pikiran dengan kata-kata. Ekspresi ide-ide atau gagasan, atau percakapan
Komunikasi buah pikiran, baik lisan maupun tulisan yang resmi secara teratur [Marahimin, 1994:26]
•         Cara obyek atau ide diperbincangkan secara terbuka kepada publik sehingga menimbulkan pemahaman tertentu yang tersebar luas [Lull, 1998:225]
•         Ucapan dalam mana seorang pembicara menyampaikan sesuatu kepada pendengar (Kleden, 1997:34)
Jadi, dapat kita tarik kesimpulan bahwa analisis wacana adalah rangkaian ujar atau rangkaian tindak tutur yang mengungkapkan suatu hal yang disajikan secara teratur,sistematis dalam suatu kesatuan yang koheren dibentuk oleh unsur segmental maupun non segmental bahasa .

Ciri Analisis Wacana
1.  Unity
2. Koheren
3. Teratur
4. Sistematis

Urgensi Analisis Wacana
•         Untuk menganalis makna pesan yang disampaikan (media/seseorang)
•         Wacana merupakan alat pembentukan opini dan pendapat umum
•         Ibarat gugusan gagasan yang menyelimuti dan menjadi pembicaraan ramai
•         Wacana mudah diterima maka akan membentuk interpretasi publik atas ide yang digulirkan
•         Wacana bisa diubah menjadi alat advokasi terhadap kebijakan

Jenis-Jenis wacana
1.    Wacana Lisan dan Tulis
Wacana lisan kurang terstruktur, penataan subordinatif lebih sedikit, jarang menggunakan piranti hubung (alat kohesi), frasa benda tidak panjang, dan berstruktur topik-komen. Sebaliknya wacana tulis cenderung gramatikal, penataan subordinatif lebih banyak, menggunakan piranti hubung, frasa benda panjang, dan berstruktur subjek-predikat.

2.    Wacana monolog, dialog, dan polilog
Berdasarkan jumlah peserta yang terlibat pembicaraan dalam komunkasi, ada tiga jenis wacana, yaitu wacana monolog, dialog, dan polilog. Bila dalam suatu komunikasi hanya ada satu pembicara dan tidak ada balikan langsung dari peserta yang lain, maka wacana yang dihasilkan disebut monolog. Dengan demikian, pembicara tidak berganti peran sebagai pendengar. Bila peserta dalam komunikasi itu dua orang dan terjadi pergantian peran (dari pembicara menjadi pendengar atau sebaliknya), maka wacana yang dibentuknya disebut dialog. Jika peserta dalam komunikasi lebih dari dua orang dan terjadi pergantian peran, maka wacana yang dihasilkan disebut polilog.

3.    Wacana deskripsi, eksposi, argumentasi, persuasi, dan narasi
Wacana deskripsi bertujuan membentuk suatu citra (imajinasi) tentang sesuatu hal pada penerima pesan. Wacana eksposisi bertujuan untuk menerangkan sesuatu hal kepada penerima agar yang bersangkutan memahaminya. Wacana eksposisi memerlukan proses berfikir. Wacana argumentasi bertujuan mempengaruhi pembaca atau pendengar agar menerima pernyataan yang dipertahankan, baik yang didasarkan pada pertimbangan logika maupun emosional. Wacana persuasi  bertujuan mempengaruhi penerima pesan agar melakukan tindakan sesuai yang diharapkan penampai pesan. Untuk dapat mempengaruhi, wacana persuasi kadang menggunakan alasan yang tidak rasional. Wacana narasi merupakan satu jenis wacana yang berisi cerita. Oleh karena itu, unsur-unsur yang biasa ada dalam narasi adalah unsur waktu, pelaku, dan peristiwa.

Teknik Analisis Wacana
      Proses pelaksanaan analisis wacana untuk ilmu komunikasi digambarkan dengan diagram berikut ini :


      Analisis wacana dimulai dengan pemilihan naskah (text, talk, act, dan artifact) dalam suatu bidang masalah sosial, misalnya naskah (berita) tentang politik. Selanjutnya kita memilih tiga perangkat analisis wacana yang saling berkaitan : perspektif teori, paradigma penelitian, dan metode analisis wacana itu sendiri. Dari penerapan terhadap naskah yang dipilih kemudian menghasilkan hasil penelitian analisis wacana.
      Untuk perspektif teori, dalam analisis wacana sebagai metode penelitian social lazimya memakai dua jenis teori : teori substantive (sesuai dengan bidang permasalahan) dan teori wacana ( tergantung metode analisis naskah yang dipakai).
Secara garis besar, tahapan-tahapan dalam analisis wacana :
1.    Pilih satu atau serangkaian naskah yang akan dianalisis : misalnya berita tentang “Intifadha Palestina” di  Kantor berita Al Jazeera (Qatar) dan CNN (Amerika Serikat)
2.    Gunakanlah teori substantive yang dianggap relevan dengan bidang permasalahan penelitian dan tujuan penelitian. Dalam kasus ini kita akan gunakan teori “national interest”
3.    Pakailah teori wacana yang sejalan dengan metode analisis wacana yang digunakan
4.    Pilih paradigma penelitian yang akan digunakan. Perhatikan teori substantive yang akan digunakan.
5.    Tetapkan tipe analisis wacana apa yang akan digunakan : apakah pada level naskah saja atau hendak memakai CDA.
6.    Jika semuanya telah ditetapka dan dipandang sudah cocok (saling menguatkan, tidak bertentangan satu sama lain) bacalah naskah dengan metode analisis wacana dan berikan arti atau maknanya.
7.    Tafsirkan hasil analisis tersebut dengan teori substansi (dalam kasus ini teori “national interest”) dengan cara berpikir paradigm positivis, kemudian tarik kesimpulan serta implikasi hasil analisis wacana tersebut.

Penutup
Selamat berwacana, torehkan kebenaran untuk sebuah perbaikan…
“ Kalau seandainya kebenaran itu mengikuti hawa nafsu, maka akan rusaklah langit dan bumi dan apa-apa yang ada di dalamnya.” (Al-Mu’minun:71)

Referensi :
Perkembangan Analisis Wacana Dalam Ilmu Komunikasi, Sebuah Telaah Ringkas (Dr. Ibnu Hamad) Universitas Indonesia.
Kajian Wacana Bahasa Indonesia Ditulis pada Januari 14, 2008 oleh H. Sofa, S.IP, M.Pd.
Menulis Dengan Rasa dan Jiwa oleh : Yayat R.Cipasang (kangyayat@gmail.com)
Azmi Abu Azizah. 2004. Bagaimana Berpikir Islami. Solo: Era Intermedia
Abidin, Ariyanto. 2006. Presentasi Materi Analisis Wacana Kritis. DM 1 Kammi Komsat Unhas