Media dan Pemberantasan Korupsi
Setiap hari apa yang kita lihat saat
menonton berita di televisi? Apa yang kita baca saat melihat headline surat
kabar? Apa topik yang tidak pernah lepas dari pembicaraan masyarakat? Ya,
jawabannya hanya 1 kata, korupsi. Di negara Indonesia dengan jumlah penduduk 1/30
jumlah penduduk dunia, korupsi selalu menjadi isu yang hangat dan seksi yang
tidak pernah habis diwartakan. Korupsi yang menimpa bangsa saat
ini sudah seperti cendawan di musim hujan, selalu tumbuh pesat dengan grafik
yang selalu naik. Tidak
heran jika akhirnya Indonesia meraih prestasi (memprihatinkan) sebagai salah
satu dari 10 negara ter-korup di dunia.
Pemberitaan media setiap hari, setiap
saat, tidak henti-hentinya menyiarkan kasus korupsi baik yang paling anyar maupun
lawas. Kasus Bibit-Chandra, Skandal Century, Mafia Pajak, Korupsi Elit Partai
Demokrat; Nazaruddin, sampai yang paling anyar korupsi pengadaan Al-Quran
adalah segelintir dari banyak kasus yang terjadi namun selalu tidak pernah
berhasil dituntaskan, hanya menyisakan tanda tanya besar siapa the man behind the scene-nya. Sampai
sekarang misteri itu tidak pernah terkuak karena kekuatan sistemik menjadi
pelindung bagi sejumlah koruptor di negeri ini. Disinilah dibutuhkan peran besar
media untuk konsisten dalam memberitakan kebenaran dan mencari celah informasi
akurat sebanyak-banyaknya untuk disampaikan kepada publik.
Media memiliki kontribusi yang esensial
dalam mendukung proses pembangunan demokrasi di negeri ini. Peran media tidak
hanya memberikan informasi mengenai penindakan terhadap pelaku korupsi, tetapi
juga pencegahan korupsi melalui berita-berita informatif, cerdas, kritis, dan
bertanggung jawab. Hal ini di satu sisi membangun kecerdasan, kepekaan politik
serta sosial kontrol masyarakat, namun disisi lain dapat menimbulkan masalah
terutama terhadap pembentukan watak atau karakter masyarakat khususnya bagi para
generasi muda. Pemberitaan media yang terlalu banyak menyoroti profil
tokoh-tokoh bermasalah (koruptor) dibandingkan figur-figur pemimpin teladan
atau tokoh-tokoh berprestasi di berbagai bidang, menjadikan mereka kekurangan
referensi, rujukan, mengenai model manusia ideal Indonesia (negarawan). Pemberitaan
mengenai prestasi maupun dan inovasi masyarakat pun sangat minim, sehingga motivasi
untuk melakukan sesuatu yang produktif bagi diri pribadi, masyarakat, dan negara
juga sangat kurang. Media bisa jadi lupa bahwa selain fungsi informasi, dia
juga berfungsi membangun karakter (character building) dengan menanamkan sikap
mental problem solver bukan problem maker kepada masyarakat
(generasi muda), sehingga mereka tergerak untuk melakukan hal-hal konstruktif
yang bisa mensejahterakan bangsa.
Salah satu negara yang dapat dijadikan
rujukan mengenai peran besar media terhadap perubahan perilaku masyarakat adalah
Jepang. Ketika tsunami tahun 2011 malanda negeri Sakura, masyarakat Jepang sangat
terguncang. Semenjak saat itu, seluruh media Jepang dilarang untuk menyiarkan
laporan mengenai tsunami termasuk menyebut kata tsunami itu sendiri. Kata tsunami menjadi kata yang tabu di seluruh
pelosok negeri, untuk diberitakan maupun untuk diperbincangkan. Bagi mereka
tsunami dan akibatnya adalah kepedihan, dan kepedihan harus dihilangkan dengan
cara bangkit, bukan mengingat dan meratapi. Tidak heran, dengan cepat kehidupan
berangsur normal, seperti tidak terjadi suatu petaka. Jepang kembali tersenyum
dan bangkit dari keterpurukan dan menunjukkan pada dunia bahwa media mempunyai
peran yang sangat besar sebagai kekuatan pendidik dan pembangunan bangsa.
Seperti Jepang, media di Indonesia juga
diharapkan bisa menjadi barometer bangkitnya semangat pemberantasan korupsi,
wadah pendidik masyarakat yang berkualitas, serta ruang besar bagi karya dan
prestasi agar terciptanya karakter-karakter tangguh yang berintegritas yang
dapat membawa negeri ini menuju kearah perubahan yang lebih baik.
Dipersembahkan untuk kegiatan:
Kesenian Anak Bangsa Kita versus Korupsi
No comments:
Post a Comment
Thanks For Ur Comment