Wednesday, June 27, 2012

Heritage



Terpinggirkan dalam kepongahan gaya urban yang minim identitas. Terselip dalam mobilitas materi berbagai arah. Terkepung pasukan kekar, tinggi menjulang, penantang langit. Walau ringkih jelas tersurat. Tua dan bersahaja. Masih seperti dulu. 

Diam pun bermakna. Bercerita dalam kebisuan, tentang kemarin, seperti memilin benang sejarah. Menguntai bagian semrawut, menemukan ujungujung, kemudian menjadikannya satu, hingga menjadi rajutan kisah. Sunyi, dalam sebuah perjalanan virtual.

Membiarkan waktu mengikuti jejakjejak tanpa alas, mendapati tanah basah oleh darah, menghirup bau mesiu, mendengar rintihan perih dan pecah tangis. Geram, amarah, sakit hati, emosi bergejolak. Terkesiap dan terpaku. Hanya kepalan tangan yang mengeras serasa ingin dimuntahkan.

Sepersekian waktu. Ada yang berlarian, bersorak, berangkulan sambil melompatlompat, berpasangpasang mata berbinar, barisan gigi putih gading tersembul dari mulut mengembang, tangantangan kekar mengenggam erat pusaka, di acungkan seolah hendak menggapai langit. Haru bahagia, menelisik hati. Tibatiba airmata sudah jatuh tanpa disuruh.

Tersadar, mendengar gumam sendiri. " Nyawa sang penutur, hakikatnya abadi. Bahkan terhadap eksistensi kemarin, hari ini, ataupun besok. Dia butuh ruang, untuk dikenang, agar tak hilang. Disaat cengkeraman cukong bagai lidah api yang siap menghanguskan."

Semakin terdesak dengan perputaran waktu. Reformasi, transformasi, modernisasi, menjadi merek dagang, senjata, yang semakin mengkerdilkan kata. Bisa dibayangkan, wajah berganti menjadi etalaseetalase kaca berjejeran, atau hamparan paving stone minim vegetasi. Oh, Tidak. Alam akan semakin murka.

Namun jika melestarikan adalah tanggung jawab bersama, ada satu cara yang gempita. Kembali pada cerita, karena kita adalah pewaris kisah. Hanya butuh suara yang sama

 ...kami cinta sejarah, kami cinta Indonesia




* sebuah penghargaan untuk museum dan warisan sejarah lainnya

No comments:

Post a Comment

Thanks For Ur Comment